|
TAFSIR AL-QUR`AN
|
(Urutan)
Bagian : 1 | 2(lanjutan) |
diasuh oleh
Assatidz Wisatahati:Kyai Kosasih |
|
PENYEJUK HATI |
| Penyejuk hati ini dikirimkan oleh Ustadz Rochimi,semoga dapat menjadi penyejuk hati bagi kita semua, Amin |
Bagian: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8
|
|
|
Mengagungkan Syi'ar Allah
Oleh :Dr. H. Atabik Lutfi, MA
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”. (Al-Hajj [22]: 32).
Tercatat dua peristiwa agung milik umat Islam di penghujung tahun hijriyah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Kedua ibadah tersebut disebut oleh Al-Qur’an sebagai salah satu dari syi’ar-syi’ar Allah s.w.t. yang harus dihormati dan diagungkan. Bahkan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah merupakan pertanda dan bukti akan ketaqwaan seseorang seperti yang ditegaskan oleh ayat di atas. Atau menjadi jaminan akan kebaikan seseorang di mata Allah seperti yang diungkapkan secara korelatif pada ayat sebelumnya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta”. (QS. Al Hajj [22] : 30) Dalam Bahasa Arab, Syi’ar berarti sesuatu atau tempat yang diyakini memiliki kepentingan atau nilai yang luhur. Secara syariat, syi’ar-syi’ar Allah berarti seluruh perintah dan larangan-laranganNya. Dalam konteks ibadah haji menurut pengarang tafsir Al-Manar, seluruh manasik dan amaliah ibadah haji merupakan syi’ar Allah karena dalam pelaksanaannya menjadi tanda akan ketundukkan seorang hamba kepadaNya, sehingga kata "syi’ar" tidak ditujukan kecuali untuk amal-amal yang disyariatkan saja. Seperti juga yang dikatakan oleh pakar bahasa Al-Zajjaj bahwa syi’ar-syi’ar Allah adalah seluruh bentuk ibadah yang disyariatkan oleh Allah. Dengan kata lain, syi’ar-syi’ar Allah adalah seluruh ajaran agamaNya. Berdasarkan urutannya dalam mushaf, terdapat empat ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang syi’ar-syi’ar Allah, yaitu Al-Baqarah ayat 158, Al-Ma'idah ayat 2, dan Al-Hajj ayat 32 dan 36. Yang menarik bahwa kata syi’ar pada keempat ayat tersebut seluruhnya menggunakan bentuk jamak “sya’a’ir”. Sedangkan ayat yang paling banyak mendapat perhatian para mufassir dari keempat ayat tersebut adalah surah Al-Hajj ayat 32 yang menjadi acuan tema pada tulisan ini, Karena menurut Sayyid Quthb, taqwa itulah justru yang menjadi tujuan yang diharapkan akan tercapai dari seluruh pelaksanaan manasik haji dan syi’ar-syi’ar Allah yang lainnya, sehingga ayat ini menjadi dalil yang sharih (tegas, jelas) akan hubungan yang erat antara sikap dan perbuatan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah dengan kedudukan taqwa yang menjadi target dari seluruh pelaksanaan ibadah kepadaNya. Dalam konteks ibadah qurban seperti yang diisyaratkan oleh surah Al-Hajj, Allah menjadikan hewan-hewan qurban ini sebagai tanda akan syariat Allah yang harus dilaksanakan dengan ikhlas dan taqwa. Sehingga nilai dari seluruh syariat Allah sesungguhnya tidak terletak pada fisik lahiriah saja, tetapi lebih dari itu pada taqwa dan keikhlasannya yang totalitas kepada Allah swt, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”. (Al-Hajj [22]: 37) Ibnu Katsir mengambil kesimpulan dari ayat ini bahwa barangsiapa yang mampu menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan seluruh larangan Allah, dengan merasakan besarnya pelanggaran tersebut akan meraih pahala dan kebaikan yang banyak. Sebagaimana juga terdapat pahala yang besar dalam menjalankan seluruh syi’ar-syi’ar Allah swt. Sikap mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah menurut Ibnu Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin merupakan keharusan bagi orang yang mengakui keagungan Allah swt. Padahal mengagungkan Allah yang disertai dengan mengagungkan syi’ar-syi’arNya merupakan salah satu dari tahapan implementasi ayat "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan" (Al-Fatihah: 5) Oleh karenanya, Allah mengecam dengan ungkapan pertanyaan yang berbentuk sindiran bagi orang-orang yang tidak mengagungkan Allah dan syi’ar-syi’ar-syi’arNya, “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” “ (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku” (QS. Nuh [17] : 13) Imam Hasan Al-Bashri berkata, "Ayat ini ditujukan kepada mereka yang tidak mengenal Allah dengan sebenarnya dan kepada mereka yang tidak mensyukuri nikmat-nikmatNya dengan senantiasa menghormati dan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah tanpa terkecuali”. Ayat di atas menjadi penting artinya karena besarnya hubungan dan kuatnya pertalian hati dengan Allah merupakan harta kekayaan orang yang bertaqwa dan modal orang yang ahli beribadah. Haji merupakan salah satu dari media pembelajaran ketaqwaan dan 'madrasah' ibadah yang paling urgen. Di dalam haji hubungan hamba dengan Allah menjadi kuat, jiwa kemanusiaan menjadi terlatih. Seseorang akan mengalami peningkatan spritualitas yang baik. Demikian juga dengan ibadah qurban yang secara harfiyah berarti pendekatan, yakni pendekatan diri kepada Allah (taqarrub) mengingatkan kita untuk memperkokoh semangat pengorbanan. Hal ini karena Nabi Ibrahim dan keluarganya yang kita kenang pada setiap hari raya Idul Idha merupakan tokoh yang tiada tara dalam berkorban untuk menunjukkan ketaatannya kepada Allah s.w.t.. Sehingga keagungan pribadinya membuat kita bahkan Nabi Muhammad harus mampu mengambil keteladanan darinya. “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,” (Al-Mumtahanah [60] :4). Sosok Ibrahim yang hadir pada kedua syiar Allah yang agung tersebut merupakan cermin akan kedekatannya dengan Allah yang paripurna sehingga layak meraih gelar ‘khalilullah’ kekasih Allah. Tentu untuk menggapai posisi dekat “Al-Qurban/Al-Qurbah” dengan Allah tentu bukan merupakan bawaan sejak lahir. Melainkan sebagai hasil dari latihan (baca: mujahadah) dalam menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah. Karena seringkali terjadi benturan antara keinginan diri (hawa nafsu) dengan keinginan Allah (ibadah). Disinilah akan nyata keberpihakan seseorang apakah kepada Allah atau kepada selainNya. Sehingga pertanyaan dalam bentuk “muhasabah: evaluasi diri “ dalam konteks ini adalah: “mampukan kita mengorbankan keinginan dan kesenangan kita karena kita sudah berpihak kepada Allah?…Sekali lagi, ibadah haji dan ibadah qurban merupakan gerbang untuk mencapai kedekatan kita dengan Allah swt yang lebih baik. Secara aplikatif, Rasulullah s.a.w. sendiri telah mencontohkan kepada kita bahwa beliau adalah orang yang paling terdepan dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah. Orang yang paling menjaga kehormatanNya dan paling jauh terhindar dari batasan aturan-aturanNya. Sudah selayaknya bagi kita untuk menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa peduli dengan syi’ar-syi’ar Allah dan siap menegakkannya, dalam keadaan dan kondisi apapun, karena kita yakin akan kebaikan yang dijanjikan Allah bagi mereka yang senantiasa mengagungkanNya dengan mengagungkan seluruh syi’ar-syia’arNya. “Takutlah terhadap hal-hal yang diharamkan (Allah) niscaya kamu akan menjadi orang yang paling baik ibadahnya”. (HR Tirmidzi). Semoga setiap syiar Allah mampu kita laksanakan dengan baik untuk menunjukkan nilai taqwa kita yang tinggi kepadaNya. |