Pelajaran Berharga Dari Puasa Ulat

Hewan merupakan salah satu ciptaan Allah swt yang menakjubkan, beranekaragam spesies tersebar di seluruh penjuru bumi ini bertebaran di darat maupun di laut, dari yang ukurannya besar hingga ukuran yang sangat kecil hingga tidak tampak jika dilihat oleh mata kita, inilah kekuasaan Allah, selain itu dari sekian banyak hewan yang ada, mereka ternyata memiliki perilaku atau sifat hewan yang beraneka ragam, subhanallah.

Satu dari sekian banyak hewan, mari kita bahas tentang ulat. Mendengar namanya saja mungkin Anda merasa merinding mengingat bentuknya yang menjijikkan. Kehadiran ulat untuk kebanyakan orang adalah tidak menyukainya, hal ini karena ulat merupakan hama yang akan memakan tanaman yang ada, bahkan bisa jadi membuat kerusakan untuk tanaman para petani, sungguh sangat banyak sekali kesalahan ulat dihadapan manusia. 



Namun apakah ulat selamanya akan berbuat kerusakan atau kesalahan, apakah selamanya ulat akan dibenci, apakah selamanya ulat akan dijauhi, apakah tidak akan pernah berubah, ternyata ulat seakan menyadari semua yang telah dilakukannya, lalu ulat pun mengintrospeksi dirinya dengan menjadi kepompong, inilah puasanya ulat, dia menahan diri untuk tidak rakus, menahan diri untuk tidak berbuat kerugian, menahan diri untuk tidak berbuat kesalahan, tidak makan dan minum berhari-hari. Apa yang terjadi setelah ulat menjadi kepompong, akhirnya puasanya berhasil lalu dari kepompong itu muncullah hewan bernama kupu-kupu.

Dari sini kita belajar sebuah proses puasa nya ulat, yang semula dibenci, dicaci, dijauhi aktifitasnya hanya menggangu tanaman, merusak dedaunan, pokoknya tidak diharapkan kehadirannya. Setelah berpuasa beberapa hari dalam bentuk kepompong lalu berubah menjadi kupu-kupu yang indah, kehadirannya memberikan warna warni di alam sekitarnya, kini tidak lagi dibenci tidak lagi membuat kerusakan bahkan memberikan keuntungan penyerbukan, makanannya berubah menjadi madu di dalam bunga, kini sang ulat yang telah menjadi kupu-kupu tempatnya tidak di bawah lagi namun sudah bisa terbang kemanapun dan menjadi mulia kedudukannya.

Begitu pula kita seharusnya mengambil hikmah dari puasanya ulat, yang semula kita banyak sekali berbuat kemaksiatan, kesalahan baik dihadapan Allah maupun dengan manusia, dimana tentunya kehadiran kita sebelumnya dipandang remeh atau tidak disukai karena dianggap tidak membawa dampak positif , banyak dosa, sholat belum sempurna terkadang malas. Namun setelah memasuki bulan Ramadhan yang penuh berkah, disana kita bagaikan kepompong menahan diri dari emosi dan hal-hal yang mebatalkan puasa, semangat beribadah berlipat ganda, selama sebulan lamanya kita bagaikan kepompong , lalu selesainya Ramadhan kita diharapkan mampu menjadi seperti kupu-kupu, menjadi orang yang lebih baik, lebih bertaqwa, menjadi orang yang lebih  bermanfaat dan lebih mulia dihadapan Allah dan akhluq-Nya


Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Jadilah kepompong saat menuntut ilmu 

Pelajaran berharga dari proses metamorfosis ulat yakni menjadi kepompong bisa kita sandingkan dalam proses menuntut ilmu. Seorang pencari ilmu seyogyanya juga mengambil pelajaran dari proses kepompongnya ulat, dimana dalam bersekolah pasti ada proses belajar, yang banyak mnguras tenaga dan pikiran, serta proses belajar itu sendiri merupakan sebuah perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari budi pekertinya yang kurang baik menjadi berakhlak mulia. Seperti ulat setelah menjadi kepompong namanya berubah menjadi kupu-kupu, begitu pula siswa eharusnya setelah bersekolah dia harus ada perubahan yang lebih baik dari sebelumnya.

Seorang siswa atau santri yang sedang menuntut ilmu sebenarnya mengalami proses yang mirip seperti kepompong, dimana mereka harus berpuasa, harus bisa menahan diri dari hal-hal yang melalaikan dalam belajar, harus bersabar dari berbagai tugas yang diberikan oleh Sang Guru, serta selalu mentaati tata tertib yang berlaku di lingkungan pendidikan, inilah proses kepompongnya para pembelajar, mereka harus bersabar menahan diri saat teman yang lain sibuk nge game atau hura-hura bermain-main sedangkan mereka harus menghapalkan sekian mengerjakan tugas sekian membuat karya ini-itu, inilah kepompongnya seorang yang sedang menuntut ilmu.


Apakah selamanya menjadi kepompong? tentulah tidak, ada masa tertentu para pembelajar mndapatkan predikat lulus, saat itulah para pencari ilmu harus ada perubahan, jangan sampai setelah sekolah dibandingkan sebelum sekolah sama saja, tidak ada perubahan, berarti kepompongnya rusak atau pura-pura menjadi kepompong alias tidak serius saat menjadi kepompong.

Setelah lulus, misalkan anak SD dia akan menjadi bagaikan kupu-kupu yang terbang bebas memilih SMP manapun yang dia inginkan atas kesuksesan nya dalam belajar semasa SD, dan demikian pun anak lulusan SMP atau SMA, hingga mahasiswa yang selama ini dia kuliah di perguruan tinggi sangat tekun dan serius, setelah lulus jadilah sarjana, jika saat belajar di kampus dulu dia serius maka setelah lulus bagaikan kupu-kupu yang terbang memilih tawaran pekerjaan yang tersedia, tentulah berbeda orang yang mempunyai pendidikan mempunyai kehalian dengan yang tidak.

Jadi intinya sekolah, pondok pesantren, perguruan tinggi atau lembaga lain merupakan sebuah arena kepompong setelah ditempa proses belajar oleh para pendidik setelah lulus jadilah orang yang mulia karena ilmunya/keahliannya sebagaimana kupu-kupu yang sebelumnya ulat yang diremehkan kini dimuliakan.



Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)


Pelajaran Berharga Dari Puasa Ulat Pelajaran Berharga Dari Puasa Ulat Reviewed by WISATA HATI on Maret 14, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar

Post AD

home ads